LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Minggu ini matahari terasa lebih terik saat Ramadan.
Namun suasana dalam Masjid di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ishlah di Desa Sendangagung, Kecamatan Paciran justru terasa adem.
Bukan sekadar karena hembusan angin, tapi lantaran lantunan ayat suci dan hiruk-pikuk santri yang bercakap menggunakan bahasa asing.
Di sini, bahasa Arab dan Inggris bukan sekadar mata pelajaran yang dihafal di atas kertas, melainkan napas sehari-hari.
Kedisiplinan berbahasa itulah yang menjadi ruh pesantren yang didirikan oleh KH Muhammad Dawam Saleh sejak 13 September 1986 ini.
Sekretaris Pengasuh Ponpes Al-Islah Azzam Musoffa mengenang kembali bagaimana ijtihad sang kiai bermula.
Kecintaan Kiai Dawam pada dunia pendidikan pesantren tak lepas dari rekam jejaknya saat nyantri di Gontor hingga mengenyam bangku kuliah di UGM.
‘’Karena itu beliau (Kiai Dawam, red) merasa eman kalau misalkan tidak melanjutkan pengabdian di pesantren. Beliau berijtihad membuat sendiri pesantren di kampung halaman di Desa Sendangagung,’’ ungkap Azzam.
Siapa sangka, pondok yang awalnya hanya bermodalkan sepuluh santri itu, kini bertransformasi menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam terpercaya di Kota Soto.
‘’Pada tahun ajaran 2025/2026 jumlah santri yang belajar di tingkat SMP maupun MA mencapai 2.249 orang,” terang Azam.
Keberhasilan Al-Ishlah tak lepas dari adaptasi sistem Pondok Modern Darussalam Gontor. Nilai kemandirian dan kedisiplinan ditanamkan dengan sangat kuat, terutama dalam hal komunikasi.
Santri baru tidak langsung dilepas. Ada masa inkubasi selama tiga bulan sebelum mereka diwajibkan masuk ke dalam ekosistem bahasa asing.
‘’Kedisiplinan dalam berbahasa Arab dan Inggris menjadi bagian dari keseharian santri. Karena didukung dengan aturan yang cukup ketat serta kebiasaan tadi,” jelas Azzam.
Nuansa berbeda kian terasa di Ponpes Al-Ishlah saat memasuki Bulan Ramadan. Ritme kegiatan mengalami penyesuaian.
Jika biasanya santri disibukkan dengan jadwal KBM yang padat, kini porsinya bergeser ke arah penguatan spiritual melalui Tarhib Ramadan dan tadarus rutin.
Menariknya, tahun ini Al-Ishlah kedatangan tamu istimewa. Seorang pengajar dari Universitas Al-Azhar, Mesir hadir di tengah-tengah santri melalui program Kemenag.
Baca Juga: Pembobolan Toko Di Jalan Raya Pucuk Lamongan, Sikat Rokok dan Uang Kembalian
Sosok Syaikh ini tak hanya mengajar di kelas MA, tapi juga menjadi imam Salat Dhuhur sekaligus pemberi tausiah harian kecuali Hari Jumat.
‘’Jadi kita berusaha untuk memaksimalkan keberadaan beliau, termasuk akhirnya beliau mendapat jam khusus menjadi imam di Salat Zuhur sekaligus memberikan tausiah,’’ ucap Azzam.
Syaikh tersebut dijadwalkan mengabdi hingga 2028 mendatang. ‘’Beliau punya sanad hafalan dan bacaan Alquran,’’ tambahnya.
Meski dikenal disiplin dan tradisional dalam hal ibadah, Al-Ishlah tidak menutup mata terhadap teknologi.
Tim media pesantren kini aktif memproduksi konten dakwah bertajuk Kalam Ramadan yang diunggah ke kanal YouTube.
Para bintang videonya adalah para santri sendiri, mulai dari tingkat SMP hingga mahasiswa. Mereka memproduksi dua hingga tiga video setiap hari.
‘’Dishare untuk kalangan umum termasuk wabil khusus kepada wali santri masing-masing yang itu mungkin jadi kebanggaan wali santri dan bagi kita khususnya," tuturnya.
Keistikamahan pun tak putus meski santri pulang ke rumah saat libur akhir Ramadan hingga awal Syawal.
Selama 20 hari di rumah, mereka tetap memegang paspor spiritual. Para santri wajib mengirimkan rekaman suara bacaan Alquran setiap hari melalui grup wali kelas.
‘’Demi menjaga keistikamahan yang selama ini juga sudah terjaga di pondok," tutup Azzam. Di bawah terik matahari Paciran, Al-Ishlah terus menjaga nyala api pendidikan Islam yang modern namun tetap berakar kuat pada tradisi. (sip/ind)
Editor : Indra Gunawan