Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Pondok Pesantren Muhammadiyah Al-Mizan Muhammadiyah Lamongan Menerjunkan Santri Praktik Dakwah Lapangan

Ahmad Asif Alafi • Kamis, 12 Maret 2026 | 19:05 WIB

Berawal 8 santri, kini terdapat sekitar 700 santri menimba ilmu di Ponpes Al-Mizan Lamongan.
Berawal 8 santri, kini terdapat sekitar 700 santri menimba ilmu di Ponpes Al-Mizan Lamongan.

LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Hiruk-pikuk kendaraan cukup padat melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Rabu (11/3).

Suasana kontras dengan suasana di balik bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mizan yang berada di sisi utara jalur Gerbangkertasusila itu.

Setelah masuk ke dalam, terlihat riuh rendah suara santri yang mengaji menjadi musik harian yang menyejukkan.

Di balik ketenangan itu, sebuah misi besar sedang dijalankan, khususnya selama bulan suci Ramadan.

Baca Juga: Pemkab Lamongan Mengalokasikan THR ASN  Sebesar Rp 75 Miliar

​Ponpes ini bukan sebagai wadah belajar, tapi kawah candradimuka bagi santri yang teguh belajar ilmu agama.

Pembina Ponpes Al-Mizan Muhammadiyah Lamongan, A.I. Hakim mengenang kembali memori Tahun 1985.

Kala itu, institusi ini hanyalah sebuah Panti Asuhan Muhammadiyah yang didirikan oleh H.M. Syukron.

​Gayung bersambut. Antusiasme warga yang ingin menitipkan anaknya untuk dididik secara Islami memuncak.

Pada tahun 2000, para tokoh seperti KH. Hamim Hasan, KH. Abdul Fatah (alm), dan Kiai Sutaman memprakarsai berdirinya pondok pesantren.

‘’Awalnya hanya delapan anak. Sekarang jumlah santri sudah sekitar 700 orang,” terang Hakim.

Baca Juga: Tiga Terdakwa Curanmor di Lamongan Divonis 1,5 Tahun Penjara

​Kini, lembaga yang menaungi TK, MTs, MA, hingga SLB ini tetap teguh memegang tiga pilar pokok, yakni pengentasan, kaderisasi, dan dakwah. Tujuannya satu, untuk mencetak kader ulama dan mubalig yang mandiri.

Ramadan menjadi panggung pembuktian bagi para santri. Jika santri kelas satu hingga empat disibukkan dengan kajian madrasah dan jelang berbuka, maka santri senior memikul tanggung jawab lebih berat. Mereka diterjunkan ke medan laga dakwah yang sesungguhnya.

​Pihak pondok mewajibkan santri kelas 4, 5, dan 6 untuk melakukan praktik dakwah lapangan. Mereka tidak hanya belajar teori di kelas, tapi langsung menjadi imam salat wajib, penceramah Tarawih, hingga khatib Salat Jumat.

​"Tahun ini, mereka tersebar di 38 titik wilayah Lamongan, Gresik, hingga Bojonegoro," jelas Hakim.

​Tak hanya itu, khusus santri kelas 5, mereka diwajibkan menghidupkan malam melalui iktikaf untuk mengejar keutamaan Lailatul Qadar.

Sebanyak 14 paket kajian telah disiapkan secara marathon dalam sepuluh hari terakhir Ramadan.

Baca Juga: TKBR Lamongan Menunggu Berkah Libur Lebaran

​Bagi Al-Mizan, Ramadan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kawah untuk mengasah mental.

Saat masyarakat melihat santri muda berdiri tegap di atas mimbar Jumat, di situlah misi perkaderan yang dicita-citakan sejak 1985 dianggap tunai.

​"Semua kegiatan tahunan berjalan lancar. Yang paling penting, target kualitas individu santri terselesaikan," pungkasnya. (sip/ind)

Editor : Indra Gunawan
#Ponpes Al-Mizan #muhammadiyah #lamongan #ramadan