LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Deru angin di Desa Wudi, Kecamatan Sambeng, Lamongan, sore itu seolah kalah dengan riuh rendah suara santri yang melantunkan ayat suci.
Di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum, Ramadan bukan sekadar menahan lapar, melainkan perlombaan menuntaskan kitab kilat di tengah suasana khusyuk yang kental.
Pendiri sekaligus pengasuh Ponpes Darul Ulum H. Na’im tampak memerhatikan anak didiknya dengan saksama.
Pria 61 tahun itu membangun oase pendidikan keagamaan ini sejak 24 Agustus 2017. Niatnya sederhana namun tajam, yakni mengawinkan pendidikan formal dengan spiritualitas yang kuat.
‘’Karena sebelumnya sudah ada yayasan pendidikan formal, saya ingin memperdalam pendidikan agama anak-anak. Jadi pendidikan agamanya lebih tajam,” ujar H. Na'im.
Meski berada di wilayah kecamatan, daya pikat Ponpes Darul Ulum telah menembus batas teritorial.
Dari 63 santri yang bermukim, asal-usul mereka tak main-main. Ada yang datang dari tetangga kabupaten seperti Gresik, Tuban, dan Jombang, hingga seberang pulau dari Kalimantan Tengah. Bahkan, aura pesantren ini sampai ke telinga warga Negeri Jiran.
‘’Santri ada yang dari Gresik, Tuban, Jombang, Kalimantan Tengah, bahkan ada juga dari Malaysia,” terangnya bangga.
Tak hanya santri mukim, ekosistem pendidikan di sini sangat hidup. Ada lebih dari 100 santri non-mukim yang rutin mengaji, serta sekitar 300 siswa mulai tingkat TK hingga Madrasah Aliyah yang bernaung di bawah yayasannya.
Baca Juga: Serapan Anggaran Daerah Masih Minim, THR ASN di Lingkungan Pemkab Lamongan Dicairkan Minggu Ini
Khusus di bulan suci Ramadan, ritme ibadah di Ponpes Darul Ulum meningkat dua kali lipat. Program unggulannya adalah pengajian kitab kilat.
Targetnya ambisius, empat kitab harus khatam dalam satu bulan. Para santri seolah tak diberi celah untuk bermalas-malasan.
Maraton mengaji dimulai sesaat setelah selesainya zikir salat Subuh. Berlanjut pukul 08.00 pagi untuk kajian khusus, disambung lagi setelah Zuhur, hingga puncaknya setelah Ashar menjelang berbuka.
‘’Tradisi pesantren yang kami terapkan selain salaf adalah bagaimana anak-anak bisa disiplin terhadap ibadah,” ucap H. Na’im.
Sisi humanis pesantren ini makin terlihat saat matahari mulai condong ke barat. Darul Ulum tidak eksklusif.
Setiap hari, gerbang pondok terbuka bagi masyarakat sekitar untuk berbuka bersama. Tak tanggung-tanggung, 150 nasi kotak disiapkan gratis setiap harinya.
‘’Diikuti semua masyarakat tidak hanya anak pondok. Ini sudah berjalan 4 tahun,’’ ungkapnya.
Baca Juga: Seluruh Senpi Anggota Polres Lamongan Diperiksa Menyeluruh
Kebersamaan itu baru usai setelah Salat Tarawih berjamaah dan tadarus yang berakhir pukul 21.30 WIB.
Bagi H. Na’im, ilmu tanpa amal adalah hampa. Dia selalu menanamkan motto bahwa keteladanan jauh lebih bermakna daripada sekadar ajaran lisan.
Di akhir perbincangan, dia menitipkan satu wasiat bagi para santri agar terus istiqamah dalam dua hal, yakni menjaga Alquran dan salat berjamaah.
‘’Artinya bil hal-nya (tindakan nyata) jauh lebih penting daripada keilmuan, jadi praktiknya,’’ pesannya. (sip/ind)
Editor : Indra Gunawan