Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Berdiri di Wilayah Abangan di Selatan Lamongan, Kini Sejumlah Santri di Ponpes Bustanul Hikmah dari Luar Pulau

Ahmad Asif Alafi • Minggu, 8 Maret 2026 | 21:57 WIB
Sejumlah santri di Ponpes Bustanul Hikmah datang dari luar daerah dan luar pulau.
Sejumlah santri di Ponpes Bustanul Hikmah datang dari luar daerah dan luar pulau.

LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Sinar matahari siang itu terasa hangat menyapu halaman Pondok Pesantren (Ponpes) Bustanul Hikmah di Desa Dumpiagung, Kecamatan Kembangbahu.

Di sela deru angin sepoi, tampak puluhan santri berjalan beriringan dengan mendekap erat kitab kuning di dada mereka.

Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Bustanul Hikmah KH. Darmawan mendirikan Ponpes Bustanul Hikmah Tahun 2010.

‘’Ponpes ini saya dirikan atas dawuh mursyid (guru spiritual) saya, Romo KH. Alif Muhammad Imam Syafi’i,” ujar Ustad Wawan, sapaan akrabnya.

Baca Juga: Pemain Persela Lamongan Minim Menit Bermain Bakal Diberi Kesempatan Dilaga Uji Coba Melawan Persekat Tegal

Menurut Ustad Wawan, berdirinya pesantren dilatarbelakangi keinginan mengembangkan pemahaman agama di wilayah Lamongan selatan.

Dia menilai daerah tersebut  notabenenya daerah abangan (kelompok muslim yang mencampurkan dengan tradisi lokal), sehingga masih membutuhkan penguatan pendidikan keagamaan.

‘’Harapannya anak-anak di Lamongan selatan khususnya, bisa memahami agama dengan baik dan benar. Intinya mengajak diri sendiri, keluarga, dan masyarakat untuk lebih dekat kepada Allah SWT,’’ terang 45 tahun ini.

Dalam sistem pendidikan, Ponpes Bustanul Hikmah memadukan metode salafiyah dengan pendidikan modern.

Para santri tetap mempelajari kitab-kitab klasik karya ulama salaf, namun di saat yang sama juga mengikuti pendidikan formal pada pagi hari.

‘’Pembelajaran kitab salaf diajarkan di pesantren ini, sembari pagi hari anak-anak sekolah formal mulai SMP sampai SMK,” terangnya Wakil Rois Syuriah PCNU Lamongan ini. 

Baca Juga: Era Baru L.A Mania Dimulai, Carembo Siap Hidupkan Dukungan untuk Persela Lamongan

Perkembangan pesantren pun cukup pesat. Saat ini jumlah santri mukim mencapai sekitar 800 orang.

Mayoritas berasal dari Lamongan. Namun beberapa santri juga datang dari berbagai daerah, seperti Mojokerto, Gresik, Surabaya, Bojonegoro, Sidoarjo, Jember, hingga Madiun.

Bahkan beberapa santri berasal dari luar Pulau Jawa, seperti Kalimantan Timur, Pontianak Kalimantan Barat, hingga Merauke.

Di balik perkembangan pesantren, tantangan tetap ada. Salah satunya pengaruh penggunaan gawai pada generasi muda.

Karena itu pihak pesantren melarang santri membawa telepon seluler selama di lingkungan pondok.

Gawai hanya boleh digunakan saat waktu kunjungan keluarga atau sambangan santri.

‘’Sekarang anak-anak sejak kecil sudah terbiasa dengan HP dan media sosial. Itu tantangan besar bagi pesantren,” ujarnya. 

Memasuki bulan Ramadan, aktivitas santri mengalami penyesuaian. Jadwal sekolah formal tetap berlangsung mulai pukul 07.00 hingga selesai.

Namun setelah Salat Ashar, para santri mengikuti pengajian kilatan kitab salaf dengan metode bandongan.

Dalam metode tersebut, satu ustad membacakan kitab, sementara para santri menyimak dan memberi makna pada kitab masing-masing.

Baca Juga: Menghirup Wangi Makkah di Namira, 250 Kamar Disiapkan bagi Pengunjung Masjid dari Luar Kota

Pengajian bandongan kembali dilanjutkan setelah Salat Tarawih hingga sekitar pukul 21.00–21.30 WIB. Setelah itu para santri melanjutkan kegiatan tadarus Alquran di kamar masing-masing.

Pesantren menargetkan setiap santri minimal khatam Alquran satu kali selama Ramadan. Santri yang belum memenuhi target tersebut tidak diperkenankan pulang saat libur.

Selain itu, santri juga wajib menuntaskan pemaknaan kitab yang dipelajari. Kitab yang sudah dimaknai secara lengkap akan diperiksa oleh dewan taftis sebelum diberi stempel kelulusan.

Jadi selain khatam membaca Alquran, juga harus khatam dan full memaknai dua kitab sebelum pulang. 

‘’Kalau kitabnya masih kosong atau belum dimaknai penuh, tidak boleh pulang. Harus ditambal dulu, karena nanti kitab akan dikumpulkan, kalau dapat stempel baru boleh pulang,” ucap Ustad Wawan. (sip/ind)

Editor : Indra Gunawan
#pondok pesantren #lamongan