LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Ramadan menjadi momen meneguk cuan bagi pedagang takjil, yang menjamur di pinggir jalan protokol Lamongan. Namun dua hari ini cuaca kurang bersahabat.
Sore hari seharusnya menjadi prime time bagi para pedagang makanan dan minuman (mamin). Namun jalanan di pusat Lamongan diguyur hujan sejak siang hari.
Rintik hujan menjelang buka puasa menjadi tantangan bagi beberapa pedagang yang menjajakan makanan yang tidak tahan lama.
Namun di sisi lain, cuaca hujan menjadikan ajang sedekah dadakan bagi para pedagang yang menjual jajanan sekali buat.
Baca Juga: Perbaiki Jalan Mantup - Sambeng
Di sinilah sisi kemanusiaan pedagang kecil diuji di tengah himpitan rugi. Nurul, penjual gorengan di depan SMPN 1 Lamongan menuturkan bahwa ketika dagangan tidak habis, strategi selanjutnya adalah menitipkan ke musala-musala terdekat.
“Sampai Magrib habis tidak habis, saya pulang, kalau tidak habis ya dikasihkan ke orang-orang, kadang juga dibawa ke musala. Namanya jualan ya ada risikonya” ujar Nurul.
Pada akhirnya, berjualan takjil di musim hujan menjadi tantangan mengelola ekspektasi. Risiko barang yang tak tahan lama menjadi konsekuensi yang harus ditelan pahit-pahit saat pembeli yang lebih memilih berteduh di rumah.
Namun, bagi para penjual di jantung Kota Lamongan ini, merugi bukan berarti menyerah. Membagikan dagangan yang tak laku menjadi cara mereka menabung dengan cara yang berbeda.
Sebab mereka tahu, dalam setiap makanan yang dibagikan, ada harapan yang tidak boleh ikut padam. Mereka yakin bahwa berkah Ramadan selalu punya jalan sendiri untuk kembali.
Baca Juga: Tiga Spesialis Curanmor di Glagah, Lamongan Terancam 9 Tahun Penjara
Minimnya pembeli saat hujan di sore hari juga dirasakan Ari, salah satu penjual jajanan tradisional.
“Setiap hari saya jualan. Saat Ramadan sehari kira-kira bisa habis tepung 5 kilogram, kadang-kadang bisa habis semua jajanannya, tapi beda saat cuaca hujan,” ucap Ari. (mgg/ind)
Editor : Indra Gunawan