LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO – Ribuan hektare sawah tambak terdampak banjir. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan mendata luas lahan pertanian terdampak mencapai 1.086 hektare (ha), yang tersebar di sejumlah wilayah kecamatan.
Sedangkan jumlah tambak yang terendam lebih luas. Dinas Perikanan Lamongan mendata 7.058 ha tambak terdampak banjir Bengawan Jero. Kepala Dinas Perikanan Lamongan Yuli Wahyuono mengatakan, 7.058 ha tambak yang terdampak tersebar di enam kecamatan.
Meliputi di Kecamatan Kalitengah ada 18 desa, Karanggeneng ada 4 desa, Glagah ada 14 desa, Turi ada 8 desa, Deket 4 desa, dan Karangbinangun ada 9 desa.
‘’Untuk kerugian belum dihitung. Sedangkan umur ikan bervariasi, ada yang satu bulan hingga dua bulan,’’ terang Yuli kepada Jawa Pos Radar Lamongan, (15/1).
Ia mengaku sudah melakukan beberapa upaya untuk meminimalisasi, dengan memberi bantuan waring yang baru turun di triwulan satu. ‘’Upaya kita itu. Harapan saya semoga ini cepat surut dan tentunya pupuk subisidi bida ditebus para petambak,’’ ucapnya.
Sehingga total sawah tambak yang terdampak 8.144 ha. Informasi yang dihimpun, 4,5 ha lahan pertanian di Kecamatan Glagah terancam puso, dengan rincian Desa Duduklor 3 ha dan Desa Meluntur 1,5 hektare.
Sekretaris Dinas KPP Lamongan Bakrudin Zuhri menjelaskan, sejumlah petani berupaya melakukan panen dini pada area lahan yang terendam.
Namun, diakuinya, beberapa memang terancam puso karena kondisi air yang tinggi.
Menurutnya, untuk yang terdampak rerata usia padi masih 30-40 hari. Tanaman diketahui bisa diselamatkan atau tidak ketika nantinya banjir sudah surut.
Karena di wilayah Bengawan Jero, khususnya yang paling terdampak tambak. Sedangkan pertanian padi hanya sebagian kecil dan laporan yang masuk termasuk dari wilayah selatan.
‘’Jadi kalau dari dampak Bengawan Jero tidak banyak, data juga digabung dengan luapan Bengawan Solo kalau debitnya tinggi,” ujarnya.
Kepala Pelaksana BPBD Lamongan, Moh. Nalikan menuturkan, status bencana tanggap darurat kembali diperpanjang. Karena kondisi beberapa titik masih tinggi, yakni sejumlah jalan poros dan fasilitas umum juga terdampak.
Sehingga pemerintah terus berusaha meningkatkan pembuangan melalui pompa yang ada. Selain itu, normalisasi saluran pembuangan dengan membersihkan enceng gondok serta sampah yang mengganggu aliran sungai pembuangan.
‘’Pemerintah terus berupaya mengurangi genangan dengan memaksimalkan pembuangan, masyarakat tetap sabar dan semoga sehat,” tutur Sekdakab Lamongan itu.
Menurut dia, meski statusnya bencana tanggap darurat, tapi masyarakat masih menempati rumah masing-masing. Sehingga pemerintah berusaha mendekatkan pelayanan, khususnya kesehatan. Seluruh puskesmas, pustu buka 24 jam.
Kemudian membuka posko layanan kesehatan di beberapa desa, juga meminta agar satuan pendidikan tetap memperhatikan kondisi wilayah dalam proses pembelajarannya. Serta memastikan bantuan pemerintah terus tersalurkan untuk warga yang terdampak.
‘’Bantuan kita optimalkan, mulai bahan makanan, sandang, hingga selimut juga obat-obatan,” terangnya. (sip/rka/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta