radarlamongan.co - jawaposradarlamongan – Distribusi biosolar normal kembali.
Sebelumnya, bahan bakar tersebut mengalami keterlambatan pengiriman ke SPBU.
Manajer SPBU 5462223 Tikung, Sunarno, mengatakan, biosolar sudah normal.
Terkait adanya pemblokiran QR biosolar, menurut dia, kebijakan itu kewenangan Pertamina pusat.
Di SPBU, lanjut dia, selama ada yang datang melakukan pengisian dan stok tersedia, maka akan dilayani sebagaimana mestinya.
“Kalau solar ini sama dengan pertalite, bedanya solar subsidi sedangkan pertalite penugasan,” tutur koordinator SPBU Lamongan itu.
Sementara itu, sebagian pengendara motor kini beralih konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dari Pertalite ke Pertamax.
Sunarno, pengguna Pertalite hingga saat ini memang masih tinggi.
Sebab, harganya lebih murah Rp 10 ribu per liter dibandingkan Pertamax yang Rp 12.200 per liter.
Menurut dia, setelah kejadian banyak motor mogok, sebagian pengendara beralih ke Pertamax dan kini sudah terbiasa.
“Untuk kendala (motor mogok) sudah tidak ada,” imbuhnya.
Sujarno menuturkan, kebutuhan rata - rata setiap harinya di SPBU Tikung sekitar 5 kl Pertamax.
Sementara Pertalite 12 kl setiap harinya.
Permintaan itu belum mengalami peningkatan karena tidak bertepatan dengan hari besar keagamaan.
Menurut dia, kebutuhan masing - masing SPBU sudah disesuaikan usulan.
Semua SPBU setiap tahun mengusulkan kebutuhan hariannya.
Kabag SDA Setda Kabupaten Lamongan, Dina Ariani, menuturkan, usulan BBM maupun LPG akan disesuaikan kebutuhan masing-masing.
Namun, keputusan tetap dari Pertamina.
Pihaknya hanya berharap kuota yang diberikan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sebab BBM maupun LPG merupakan kebutuhan harian. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma