LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Sembilan bulan terakhir terdeteksi 196 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) baru. Dari jumlah tersebut, sembilan ODHA meninggal dunia.
Sedangkan, dari mulai awal hingga sekarang total terdata 2.226 ODHA di Kota Soto. Meliputi konsumsi anti retrovirus (ARV) 1.093 ODHA, berhenti ARV sebanyak 207 ODHA, dan meninggal 587 ODHA.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Lamongan, dr. Mafidhatul Laely menjelaskan, temuan kasus ini semakin banyak akan lebih baik. Tujuannya agar pasien bisa mendapatkan terapi ARV.
Meski ARV tidak bisa menyembuhkan, tapi mampu meningkatkan kualitas hidup ODHA. Selain itu, dengan rutin mengkonsumsi ARV, bisa menurunkan risiko penularan virus pada penyakit yang menyerang kekebalan tubuh tersebut.
Menurut dia, untuk kasus meninggal setiap tahunnya pasti ada. Pasien ODHA meninggal karena komplikasi dari infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis (TBC), pneumonia, toksoplasmosis, meningitis kriptokokus, serta penyakit lain yang diperburuk oleh sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Kematian juga dapat disebabkan penyakit menular, keganasan (kanker), dan penyakit lain yang berkaitan dengan HIV. “Sebaiknya kita cegah, kalau memang positif segera lakukan pengobatan atau terapi sesuai arahan dokter,” jelasnya.
Fidha mengatakan, faktor yang mempengaruhi kematian antara lain, stadium penyakit, semakin lanjut infeksi HIV semakin tinggi risiko kematian akibat infeksi. Jumlah CD4 (sel T) yang sangat rendah memiliki risiko kematian lebih tinggi, karena kekebalan tubuh yang lemah.
Serta kurangnya akses dan kepatuhan terhadap pengobatan ARV dapat mempercepat perkembangan penyakit. Karena itu, dia berharap kesadaran masyarakat ditingkatkan untuk melakukan skrining/pemeriksaan guna mencegah adanya penyakit tersebut.
Fidha menambahkan, pemeriksaan bisa dilakukan di puskesmas maupun rumah sakit. Hasil pemeriksaan akan dirahasiakan, dan harapannya masyarakat bisa menghindari pergaulan bebas yang sangat tinggi risikonya untuk terpapar virus yang belum ditemukan obatnya tersebut.
“Penderita merata semua usia, karena penularan bisa melalui hubungan seksual hingga air susu ibu,” terangnya. (rka/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta