RADARLAMONGAN.CO – Bagi sebagian masyarakat Jawa, khususnya kalangan santri tradisional, bulan Safar selalu identik dengan datangnya cobaan. Terlebih pada Rabu terakhir di bulan Safar yang dikenal dengan sebutan Rebo Wekasan.
Istilah wekasan berarti “terakhir”. Maka, Rabu Wekasan dipahami sebagai hari penutup di bulan Safar.
Dalam tradisi Islam Jawa, momentum ini diyakini sebagai waktu turunnya banyak bala atau musibah. Karena itu, masyarakat kerap melakukan berbagai amalan tolak bala.
Pantangan dan Anjuran
Sejumlah pantangan melekat pada Rabu Wekasan. Masyarakat biasanya menghindari bepergian jauh, memulai usaha besar, hingga menggelar hajatan. Semua itu dipercaya rawan terkena musibah.
Namun, ada pula anjuran yang justru berkembang menjadi tradisi. Mulai dari menggelar selametan, membaca doa khusus Rabu Wekasan, shalat hajat, hingga membaca Surat Yasin tiga kali dengan niat berbeda: panjang umur, terhindar dari bala, dan diberi rezeki berkah. Sedekah juga menjadi bagian penting dalam amalan ini.
Tradisi Masyarakat Jawa
Kepercayaan akan Rabu Wekasan tersebar luas di kalangan masyarakat Jawa, terutama lingkungan beberapa pesantren. Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa dalam syariat Islam tidak ada hari yang dianggap sial. Tradisi ini lebih dipahami sebagai bentuk ikhtiar spiritual dan kearifan lokal dalam menghadapi hidup.
Momentum 2025.
Tahun ini, Rabu Wekasan diperkirakan jatuh pada Rabu terakhir bulan Safar 1447 H, atau bertepatan dengan kalender Masehi akhir Agustus 2025. Sebagian masyarakat yang masih percaya akan tradisi ini mulai bersiap menggelar doa bersama dan selametan, melanjutkan tradisi yang sudah turun-temurun dijaga. (jar)
Editor : Anjar D. Pradipta