RADARLAMONGAN.CO, JAWAPOS.COM – Puluhan tahun sudah suporter Persela Lamongan harus menghadapi kemacetan parah setiap kali pulang dari Stadion Surajaya. Ribuan kendaraan harus mengular di Jalan Jenderal Sudirman, terhenti di depan perlintasan kereta api yang menjadi “biang kerok” tersendatnya arus Pantura Surabaya–Babat. Penantian panjang itu akan segera berakhir.
Jalan Lingkar Utara (JLU) Lamongan bakal diresmikan pada 17 Agustus 2025. Jalan sepanjang 7,15 km ini bukan hanya kabar gembira bagi pengguna reguler Pantura, tetapi juga dianggap “hadiah kemerdekaan” bagi suporter Laskar Joko Tingkir - julukan Persela - yang selama ini selalu terjebak dalam ritual pulang penuh penderitaan: panas, bising klakson, dan antrean tanpa ujung.
Bayangkan saja, setiap laga kandang, sekitar 11.000 lebih suporter memadati stadion. Begitu peluit panjang berbunyi, ribuan motor dan mobil tumpah ke jalan utama. Semua harus melewati perlintasan KA tepat di barat stadion yang mengharuskan setiap kendaraan berjalan pelan karena kondisinya yang serong dan sering rusak berlubang.
Apalagi ketika palang pintu ditutup karena KA lewat, antrean semakin mengular, emosi memuncak, dan tak jarang disertai sorakan frustrasi.
Dengan adanya JLU, suporter bisa memilih memutar sedikit ke timur, masuk lewat pintu timur JLU di Desa Rejosari Kecamatan Deket. Memang jaraknya sedikit lebih jauh, tapi akan jauh lebih lancar.
Namun, akan lebih lancar lagi bila ada jalan tembus dari stadion ke JLU yang ada di sebelah utara stadion. Saat ini hanya tersedia jalan makadam sempit yang melintasi perumahan, tak bisa dilalui mobil, apalagi bus rombongan. Artinya, untuk mengoptimalkan JLU, perlu dibangun akses permanen yang langsung menghubungkan stadion ke jalur lingkar.
“Kalau bisa dibangun, setiap selesai pertandingan arus keluar bisa dibagi dua, sebagian lewat Pantura, sebagian langsung ke JLU. Macet bisa dipotong lebih dari separuh,” kata seorang suporter Persela.
Tak hanya urusan macet, pembukaan JLU juga membuka peluang ekonomi bagi suporter dan warga sekitar. Jalan baru ini diperkirakan akan menjadi jalur strategis menuju pusat kuliner, lapak merchandise Persela, hingga area parkir alternatif yang lebih luas.
Meskipun musim ini Persela harus bertanding tanpa dihadiri suporter selama satu musim karena masih menjalani sanksi atas kerusuhan di Stadion Tuban Sport Center musim kemarin. Kini, semua mata suporter tertuju pada Agustus nanti.
Harapannya, pembukaan JLU benar-benar solusi nyata mengakhiri “derita kemacetan” yang sudah jadi cerita klasik setiap musim kompetisi.
Dan jika jalur tembus ke stadion benar-benar diwujudkan, Surajaya tak hanya jadi rumah Persela, tapi juga jadi simbol kebanggaan Lamongan yang ramah suporter. Karena buat suporter Laskar Joko Tingkir, jalan pulang yang lancar itu akan melengkapi kepuasan dan kebanggaan raihan tiga poin kemenangan di kandang tim kebanggaannya, Persela.(feb)
Editor : Anjar D. Pradipta