RADARLAMONGAN.CO, JAWAPOS.COM — Kalau ada kuliner yang kisahnya bak drama, wingko pantas menyandangnya. Kudapan berbahan kelapa dan tepung ketan ini memang lekat dengan nama Babat, sebuah kecamatan di Kabupaten Lamongan yang sejak era kolonial sudah memproduksi wingko secara tradisional.
Ironisnya, sebagian besar orang justru mengenalnya sebagai oleh-oleh khas Semarang, bahkan perlindungan hak kekayaan intelektual (HAKI) mereknya sudah ada di sana.
Namun, siapa sangka? Jantung produksi dan penjualan wingko sesungguhnya tetap berdetak kencang di Lamongan. Buktinya, tidak hanya di Babat sebagai sentra perajin, di Jalan Panglima Sudirman dekat stasiun juga mudah dijumpai deretan kios wingko berjejer rapat.
Bahkan penjualannya langsung memanggang di tempat, memancing pencinta kuliner dengan aroma khas kelapa yang menyeruak ke jalan. Termasuk juga bisa ditemukan di Jalan Arjuno dan sekitarnya dekat Alun-Alun Lamongan.
“Kalau bicara sejarah, Babat itu ibarat rahimnya wingko. Dari sinilah semuanya berawal,” kata seorang perajin wingko generasi ketiga di Babat. Ia menyebut, nenek moyangnya sudah membuat wingko sejak akhir 1800-an, ketika resep ini masih diwariskan dari mulut ke mulut.
Sayangnya, minimnya kesadaran perlindungan merek membuat wingko “Babat” tak tercatat resmi sebagai milik Lamongan. Celah ini dimanfaatkan oleh pelaku usaha di luar daerah yang lebih dulu mendaftarkan HAKI. “Nama bisa pindah, tapi rasa dan tradisinya tetap di sini,” imbuh sang perajin bangga.
Dari sisi ekonomi, wingko bukan hanya camilan nostalgia. Ia menyokong ratusan keluarga di Lamongan, dari pembuat adonan, tukang panggang, hingga pedagang kecil di pinggir jalan. Permintaan biasanya melonjak saat musim mudik atau libur panjang.
“Kalau Lebaran, bisa tiga kali lipat dari hari biasa,” ujar salah satu penjual di Jalan Panglima Sudirman.
Inovasi pun terus bermunculan. Selain rasa original, kini ada varian cokelat, keju, kopi, hingga durian. Semua disiapkan untuk merangkul selera anak muda tanpa meninggalkan cita rasa klasik.
Pemerintah daerah dan komunitas UMKM mulai bergerak. Rencana pendaftaran indikasi geografis untuk Wingko Babat tengah dibicarakan, demi mengikat nama Babat pada produk asli Lamongan.
Jika terealisasi, ini akan menjadi “tiket resmi” agar warisan kuliner ini tak lagi bisa diambil alih secara nama oleh daerah lain.
Bagi pelancong, mampir ke sentra wingko Lamongan adalah perjalanan rasa dan sejarah. Duduk di kios sederhana, menyaksikan adonan bulat dipanggang di atas bara, lalu menyantapnya saat masih hangat — itu pengalaman yang tak tergantikan, bahkan oleh toko oleh-oleh modern sekalipun.
Lamongan mungkin kalah cepat mengamankan “nama”, tapi tidak kehilangan jiwanya. Selama bara tungku di kios-kios Babat dan Lamongan masih menyala, wingko akan tetap pulang ke rumahnya: di sini, di tanah asalnya.(feb)
Editor : Anjar D. Pradipta