Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Akan Jadi Hadiah Kemerdekaan: JLU Lamongan Siap Akhiri Derita Macet Jalur Pantura

Bachtiar Febrianto • Jumat, 8 Agustus 2025 | 22:42 WIB
Jadi Solusi atasi Kemacetan di Jalan Nasional Lamongan - Surabaya
Jadi Solusi atasi Kemacetan di Jalan Nasional Lamongan - Surabaya

RADARLAMONGAN.CO, JAWAPOS.COM – Setiap musim mudik, kisah lama itu kembali terulang: antrean panjang kendaraan di jantung kota Lamongan, klakson bersahutan, dan wajah-wajah lelah para sopir truk serta pemudik yang terjebak macet di perlintasan kereta. Tapi tahun ini, cerita itu akan berubah.

Tepat pada 17 Agustus 2025, bersamaan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-80, masyarakat Lamongan akan menyambut “kemerdekaan” yang lain, yaitu : terbebas dari kemacetan kronis. Sebab (JLU) rencananya siap dibuka untuk umum dan menjadi solusi permanen kemacetan yang selama ini menghantui jalan nasional Surabaya–Babat.

JLU: Dibangun untuk Bebaskan Lamongan dari Macet

JLU dibangun sebagai jalan alternatif nasional sepanjang 7,15 kilometer, membentang dari Desa Rejosari, Kecamatan Deket hingga Desa Plosowahyu, Kecamatan Lamongan. Jalur ini dirancang tidak memotong rel kereta api, sehingga menghindari dua titik rawan macet, yaitu: perlintasan KA di Jalan Jaksa Agung Suprapto dan Jalan Panglima Sudirman.

Kemacetan di kedua titik itu sudah lama menjadi keluhan pengguna jalan nasional. Perlintasan serong dan rusak membuat kendaraan berat harus melambat, bahkan tak jarang menyebabkan sepeda motor terjatuh saat hujan. Kini, JLU hadir sebagai jawaban.

“Insya Allah (JLU) dibuka pada 17 Agustus mendatang. Semoga pengguna jalan merasa lebih nyaman dan aman saat melewati wilayah Lamongan,” tutur Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, penuh optimisme.

Waktu Pembangunan dan Anggaran

Proses pembangunan JLU tersebut sebenarnya sudah cukup lama. Melewati beberapa era Bupati Lamongan. Khususnya terkait proses pembebasan lahan yang menjadi tanggungjawab Pemkab Lamongan.

Setelah tuntas pembebasan lahan, secara fisik proyek JLU tersebut mulai dibangun sejak tahun 2021 saat Bupati Lamongan dijabat Yuhronur Efendi yang akrab dipanggil Pak Yes.

Pengerjaannya bertahap menjadi dua seksi: Seksi I dibangun pada 2021–2022 sepanjang 3,2 km dan Seksi II dibangun pada 2023–2025 sepanjang 3,95 km.

Anggaran total proyek ini mencapai sekitar Rp 249 miliar, bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian PUPR dan APBD Provinsi Jawa Timur.

Hingga Juli 2025, seluruh konstruksi utama telah rampung 100%, menyisakan pemasangan fasilitas penunjang seperti traffic light (APILL), rambu-rambu, dan lampu penerangan jalan umum (PJU) yang ditarget selesai sebelum hari H.

Dampak Ekonomi dan Transportasi

Tak hanya mengurai kemacetan, JLU juga membuka potensi ekonomi baru. Wilayah di sepanjang JLU mulai dilirik investor sebagai kawasan logistik dan komersial. Beberapa lahan milik warga telah disiapkan menjadi rest area, warung, hingga bengkel.

Bahkan Pemkab Lamongan juga berencana akan merelokasi pasar ikan terbesar di Kota Soto tersebut ke kawasan sekitar JLU.

Menurut data Dinas Perhubungan, saat ini volume kendaraan di Jalan Nasional Lamongan mencapai 35.000–45.000 unit per hari, dengan puncak kepadatan saat musim mudik dan hari libur nasional. Kehadiran JLU diperkirakan akan mengurangi beban pusat kota hingga 60% arus kendaraan berat.

Kado Kemerdekaan yang Nyata

Jika pembukaan JLU berjalan lancar dan sesuai rencana pada 17 Agustus mendatang, JLU bukan sekadar infrastruktur baru, tetapi akan menjadi simbol kemerdekaan baru, yaitu kemerdekaan dari kemacetan dan keluhan pengguna jalan, serta menjadi sentra pertumbuhan ekonomi baru di Lamongan.(feb)

Editor : Anjar D. Pradipta
#bupati lamongan #kemacetan #Yuhronur Efendi #JLU Lamongan #macet #Pemkab Lamongan #Jalan Nasioal