RADARLAMONGAN.CO — Malam 1 Muharram menjadi momen penting dalam kalender Hijriyah yang menandai pergantian tahun baru Islam.
Tidak sekadar perubahan angka, malam ini dimaknai sebagai waktu untuk introspeksi diri, memperbanyak doa, dan memperkuat niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tahun mendatang.
Salah satu amalan yang populer dan dianjurkan oleh para ulama adalah membaca doa akhir tahun sebelum Maghrib di penghujung bulan Dzulhijjah, serta doa awal tahun setelah Maghrib di malam 1 Muharram.
Doa Akhir Tahun Islam:
(Dibaca sebelum Maghrib pada hari terakhir bulan Dzulhijjah)
اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ، وَلَمْ تَرْضَهُ، وَنَسِيتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ، وَحَلِمْتَ عَنِّي بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي، وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جُرْئَتِي عَلَيْكَ،
اللَّهُمَّ فَإِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْ لِي، وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تَقَرَّبْتُ بِهِ إِلَيْكَ فَاقْبَلْهُ مِنِّي، وَلاَ تَقْطَعْ رَجَائِي مِنْكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Bacaan Latin:
Allāhumma mā ‘amiltu fī hāzihis-sanati mimmā nahaitanī ‘anhu falam atub minhu, wa lam tardhahū, wa nasītuhū wa lam tansahū, wa halumta ‘alayya ba‘da qudratika ‘alā ‘uqūbatī, wa da‘autanī ilat-taubah ba‘da jur’atī ‘alayk.
Allāhumma fa innī astaghfiruka faghfir lī, wa mā ‘amiltu min ‘amalin taqarrabtu bihi ilaika faqbalhu minnī, wa lā taqtha’ rajā’ī minka, yā arhamar-rāhimīn.
Artinya:
Ya Allah, segala yang aku lakukan tahun ini dari hal-hal yang Engkau larang dan belum aku taubati, sementara Engkau tidak meridhainya dan aku melupakannya, namun Engkau tidak lupa. Engkau bersabar padaku meski Engkau mampu menghukumku, dan Engkau tetap memanggilku untuk bertobat.
Ya Allah, aku mohon ampun kepada-Mu, maka ampunilah aku. Segala amal kebaikan yang aku lakukan, semoga Engkau terima. Jangan putuskan harapanku dari-Mu, wahai Tuhan yang Maha Pengasih.
Doa Awal Tahun Islam:
(Dibaca setelah Maghrib memasuki 1 Muharram)
اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيمُ الْأَوَّلُ، وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيمِ وَكَرَمِكَ الْمُعَوَّلُ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيدٌ قَدْ أَقْبَلَ، نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ، وَالِاشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ زُلْفَى، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Bacaan Latin:
Allāhumma Antal-abadiyyul-qadīmul-awwalu, wa ‘alā fadhlikal-‘azhīmi wa karamika almu‘awwal.
Wa hādzā ‘āmun jadīdun qad aqbala, nas’aluka al-‘ishmata fīhi minasy-syaithānir-rajīm, wal-‘awna ‘alā hadzihin-nafsil-ammārati bis-sū’, wal-isytighāla bimā yuqarribunī ilayka zulfā, yā dzal-jalāli wal-ikrām, yā arhamar-rāhimīn.
Artinya:
Ya Allah, Engkaulah yang abadi dan terdahulu, hanya pada anugerah-Mu aku berharap. Tahun baru ini telah datang, kami mohon perlindungan dari godaan setan yang terkutuk, bantuan untuk menundukkan nafsu yang mengajak kepada keburukan, dan semangat untuk beramal dalam hal-hal yang mendekatkan kami kepada-Mu. Wahai Tuhan yang Maha Agung, wahai yang Maha Pengasih.
Tradisi Penuh Makna
Malam 1 Muharram juga sering dijadikan ajang muhasabah pribadi. Di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Lamongan, masyarakat menggelar kegiatan seperti doa bersama, pembacaan Surat Yasin, dan zikir berjamaah. Semua dilakukan dengan harapan agar tahun yang baru dipenuhi keberkahan dan dijauhkan dari marabahaya.
Doa-doa tersebut telah menjadi bagian dari tradisi umat Muslim selama ratusan tahun, dan meski tidak wajib, tetap menjadi amalan yang penuh hikmah dan makna spiritual. (jar)
Editor : Anjar D. Pradipta