LAMONGAN, Radar Lamongan - Pemerintah Kabupaten Lamongan berupaya
mempersiapkan ketahanan pangan nasional, untuk menjawab tantangan ke depan. Bupati
Lamongan, Dr. H. Yuhronur Efendi, MBA bersama Anggota Dewan Pertimbangan
Presiden (Watimpres), Soekarwo melakukan audiensi dengan petani di Desa Randubener,
Kecamatan Kembangbahu, Senin (11/12).
Dalam kunjungannya itu, terdapat sejumlah tantangan produksi tanaman pangan,
khususnya jenis kedelai. Salah satu tantangannya ialah terkendala sarana prasarana
(sarpras), hama, dan harga yang relatif tidak stabil. Watimpres yang akrab disapa Pakde
Karwo mengatakan, kokohnya ketahanan pangan nasional akan meningkatkan
kesejahteraan petani.
Kesejahteraan tersebut akan terwujud dengan dukungan sarpras dan jaminan penghasilan
petani (off taker). ‘’Teman-teman pengambil keputusan harus melakukan perubahan,
dengarkan suara petani karena mereka yang mengetahui permasalahan pangan, khususnya
kedelai, jangan sampai terbalik,” terangnya.
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (KPP) Lamongan produksi kedelai lima
tahun trennya menurun. Tahun 2017 produksi kedelai lokal 22.498 ton, 2018 turun 22.349,
2019 12.782 ton, 2020 8.875 ton , kemudian 2021 naik 9.406 ton, dan 2022 tumbuh
10.412 ton. Hal itu dipengaruhi luas panen yang mengalami penurunan.
Pakde Karwo, sapaan akrabnya meminta agar segera mencari tahu, koordinasi dengan desa
untuk meningkatkan produksi pertanian kedelai. Karena produksinya turun signifikan,
padahal tanahnya tadah hujan, keasaman bagus, dan tidak banyak hama.
‘’Cara meningkatkan produksi itu bagaimana, dari bibit bisa dikonsultasikan dengan dinas
DKPP Lamongan,” ucapnya.
Dari analisis ketersediaan pangan komoditi kedelai lokal Lamongan cukup untuk
memenuhi kebutuhan 90 persen Lamongan. Sisanya baru menggunakan kedelai impor
(pasar luar).
Bupati Yes menuturkan, dari neraca pangan kedelai lokal Lamongan digunakan untuk
konsumsi rumah tangga dan konsumsi industri. Ketersediaan diperoleh dari produksi lokal/
panen raya yang terjadi di Bulan Februari, Maret, April, Juli, Agustus, serta pasokan dari
luar kabupaten.
Di Tahun 2023 proyeksi produksi kedelai sebesar 12,324 ton, kebutuhannya 16,205 ton,
serta defisit 3.881 ton. Karena itu, untuk menjaga kedaulatan pangan pertanian kedelai.
Bupati Yes meminta agar dilakukan pengembangan/ perluasan tanam. Khususnya
Kecamatan Kembangbahu, Sugio, Sambeng, Mantup, Kedungpring, Modo, Babat,
Lamongan, Tikung, Sarirejo, dan lainnya.
‘’Saat ini luas tanam sekitar 8.000 hektare (ha) dan akan ditingkatkan untuk
mempertahankan kedaulatan negara. Serta dilakukan beberapa inovasi untuk
meningkatkan produksi dan pemetaan wilayah tanam,” tambahnya. (rka/ind)