radarlamongan.co – jawaposradarlamongan - Rambutnya cepak dan tubuhnya kekar.
Dhoni Wahyu Krisbiantoro, nama pemuda asal Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan itu, menjadi salah satu pendulang medali kontingen Indonesia pada SEA Games 2025 di Thailand.
Dhoni tampil di cabor petanque nomor triple men.
Bersama Muhammad Muhlis Harliza dan Bagas Syarief Hidayat, mereka berhasil menembus final.
Namun, Dhoni dkk harus menyerah di partai puncak, dikalahkan tim tuan rumah dengan skor 7 - 13.
Sehingga, mereka harus puas dengan kalungan medali perak.
Meski gagal di partai final, Dhoni bersyukur bisa meraih medali perak.
Apalagi, persiapannya menuju kejuaraan yang diikuti negara – negara di Asia Tenggara itu juga tidak mulus.
Dia sempat mengalami cedera bahu. Dia bersyukur dengan bantuan tim massage akhirnya cedera itu bisa teratasi.
Dhoni memanfaatkan kesempatan selama ikut SEA Games untuk bertukar pengalaman dan pengetahuan dengan atlet dari berbagai wilayah.
"Selama di Thailand senang sekali, banyak pengalaman," tutur pria yang baru saja lulus S-1 jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Unesa itu.
Dhoni sekitar sepuluh hari di Thailand. Selama di Negeri Gajah Putih itu, cuaca relatif cukup baik.
Hanya gerimis sekali. Selebihnya, cerah. Sebelumnya, Dhoni juga pernah ke Thailand. Dia mengikuti training center (TC) selama 28 hari tahun lalu.
Setelah SEA Games, masih ada mimpi Dhoni untuk bisa membawa pulang medali emas dalam even world championship petanque.
"Fokus latihan dan berdoa, sambil berusaha untuk mendapatkan pekerjaan," ujar putra pasangan Subeki dan Siti Muslimah itu.
Dhoni bersyukur memiliki orang tua yang terus mendukung mimpi dan cita - citanya. Dia berharap bisa membuat bangga dan membahagiakan kedua orang tua dengan pilihannya menjadi atlet.
Dhoni mengaku perjalanannya selama menjadi atlet tidak selalu mulus. Selain didera cedera, dia pernah diskors, yakni dipulangkan ketika persiapan menghadapi PON karena dinilai kurang fokus. Dhoni mengajak seluruh generasi muda agar tidak berputus asa. Terus belajar untuk menggapai cita-cita. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma