LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Para pecinta genre film sci-fi mendapat angin segar dari salah satu film yang akan segera tayang berjudul “Project Hail Mary”, film fiksi ilmiah ini mengisahkan tentang perjalanan astronot yang harus menyelesaikan misi penting untuk menyelamatkan manusia.
Diadaptasi dari novel terkenal karya Andy Weir menjadi salah satu rilisan yang dinantikan dengan kolaborasi aktor ternama, Ryan Gosling.
Tapi yang membuat Project Hail Mary patut ditunggu, bukan sekadar efek visual CGI atau nama besar Gosling.
Namun, Cerita ini terasa dekat dengan realita, bahkan menampar kondisi dunia yang sedang dihadapi. Hal-hal semacam ini berpotensi mendorong jumlah penonton.
Alur cerita berfokus pada Ryland Grace (diperankan Ryan Gosling), seorang mantan ilmuwan yang banting setir jadi guru sains SMP.
Suatu hari, ia terbangun di sebuah pesawat luar angkasa yang berada jauh dari bumi dalam kondisi amnesia.
Dalam kondisi terombang-ambing jutaan mil dari rumah, ingatan Grace perlahan pulih.
Ia akhirnya sadar bahwa dirinya adalah satu-satunya harapan yang tersisa bagi Bumi.
Baca Juga: Program Jamula Berlanjut, Tahun Ini Menyasar 55 Ruas Jalan di Kabupaten Lamongan
Misi yang dilakukan sangat tidak masuk akal, yakni menemukan cara untuk menghentikan "Astrophage" organisme luar angkasa mikroskopis yang memakan energi matahari dengan kecepatan gila yang menyebabkan bumi perlahan membeku.
Namun, di tengah keputusasaan dan isolasi yang luar biasa, Grace menyadari bahwa ia tidak sendirian.
Di tata surya tempatnya terdampar, ada entitas lain yang juga sedang berjuang menyelamatkan planetnya dari ancaman yang sama.
Dari sinilah, sebuah aliansi lintas spesies yang tidak terduga terbentuk. Kalau kita tarik ke realitas saat ini, premis Project Hail Mary sebenarnya bukan sekadar fiksi ilmiah biasa.
Andy Weir seolah mengambil ketakutan terbesar manusia di era modern. Saat ini, kondisinya mungkin tidak diserang oleh mikroba pemakan matahari.
Namun, sedang berhadapan langsung dengan krisis iklim yang nyata. Suhu bumi yang makin tidak menentu, ancaman gagal panen global, hingga krisis energi.
Bumi yang sekarat dalam film ini adalah metafora yang cocok untuk menggambarkan kondisi lingkungan yang makin rapuh. (mgg/ind)
Editor : Indra Gunawan